Kecoak Elektronik Indonesia

October 5, 2008

Handheld anti sadap KPK

Filed under: Encryption, Telco — staff @ 11:28 am

Cukup untuk membuat kita tertawa membaca berita tersebut. Bapak direktur marketing ini memang sangat cerdas dan sangat memahami customer dengan baik, dengan memperhatikan pangsa pasar dimana para koruptor berkeliaran dan memahami kekuatiran mereka pasca korban kasus BLBI yang di-busted dengan metode cracking (baca: sadap) oleh pemerintah, kehadiran suatu produk yang dapat mengamankan privasi para potensial customer (baca: koruptor) tersebut akan sangat menguntungkan.

SMS memang sangat mudah dibaca, fresh graduate maupun anak SD yang kebetulan ikut masuk ke ruangan SMS center perusahaan telekomunikasi dapat membaca sms siapapun dari operator manapun. Pagar pengaman hanya masalah ‘kode etik’.

Seorang marketer yang baik, harus mampu melepaskan statement ambigu namun jujur. Sehingga jika ada yang complain, fakta kejujuran adalah jawaban yang tidak bisa dibantah lagi. Contoh nya: “Komunikasi bakal lebih aman karena BlackBerry memiliki teknologi enkripsi yang berbeda dengan perangkat ponsel pintar lainnya. Orang kebanyakan nyari BlackBerry karena lebih secure khususnya untuk chatting”.

2 minggu kemudian, salah satu potensial customer (red: cari arti potensial customer diatas) menulis pada kolom surat pembaca dari salah satu pojok ruangan KPK menyatakan bahwa klaim BlackBerry terbaru masih tidak aman. Terbukti ketika dia membicarakan suatu hal ‘privasi’ melalui ponsel, suaranya masih dapat ditangkap oleh perangkat KPK.

Tidak berapa lama akan muncul balasan dari pihak exelcomindo, “Maaf pak, yang kami maksud dengan lebih secure untuk layanan data seperti pesan singkat. Pada BlackBerry sekarang terdapat mekanisme PIN khusus yang terdiri dari deretan hexadecimal untuk keperluan enkripsi, dan PIN setiap device sifatnya unik. Dengan aplikasi chatting yang memanfaatkan fasilitas PIN tersebut, maka pesan dari suatu perangkat BlackBerry ke perangkat BlackBerry lainnya yang juga mendukung fasilitas tersebut akan jauh lebih aman. Hal ini mirip seperti private/public key encryption pada SSH/SSL (red: dengan harapan sang potensial customer mengerti tentang SSH/SSL). Walaupun pesan tersebut melewati network serta BlackBerry Enterprise Server (BES) sebagai relay, namun tetap jauh lebih aman dengan mekanisme PIN ini. Sedangkan untuk komunikasi Voice masih tetap melalui jalur GSM umum.”

Selama komunikasi voice masih memanfaatkan BTS (2G) ataupun Node-B (3G), dan masih melewati core network suatu operator yang telah terpasang law interception technology, penyadapan masih sangat mungkin untuk dilakukan. Namun jika ternyata KPK hanya menggunakan penyadapan berbasis radio, mungkin menggunakan network 3G (UMTS/HSDPA) akan lebih aman dibandingkan menggunakan network 2G. Karena metode enkripsi 3G memang lebih baik dibandingkan 2G.

Well, just a joke on Sunday Morning. Reading with a cup of tea would be nice. Please not to take it too seriously ;).

July 25, 2008

Telecom Security Auditing?!

Filed under: Telco, Various Technology — staff @ 7:26 pm

Information Systems Security has been an issue of paramount concern to many organisations particularly in this era where convergence between telecommunication and Information Technologies (IT) is prevalent. Telecommunication networks are currently offering services that were traditionally confined to conventional packet-switched networks. As a result of such developments these networks are now facing the same security challenges as those that have been confronting packet switched networks all along. The security risks are even higher when it comes to mobile telecommunication services, basically because of the mobility offered by such networks. The risks are also set to increase as the networks are gradually evolving to the next generation of only IP based networks. It is against this backdrop that the *tiiiit* Director of IT & Billing set up a task force responsible for developing a security framework that will guide testing of all systems sourced from third parties to ensure they adhere to security best practices and standards.

Sebelumnya pernah dibahas implementasi protokol IP pada bidang telekomunikasi dimana teknologi tersebut dibutuhkan salah satunya karena kebutuhan bandwidth yang semakin tinggi. Implementasi teknologi IP pada infrastruktur core telekomunikasi telah berkembang sangat pesat. Pemanfaatan teknologi seperti SCTP, SIGTRAN pada network protokol hingga pemanfaatan CORBA, XML, HttpServ, SPML, SOAP over HTTP, LDAP, dll pada sisi aplikasi merupakan peningkatan teknologi telekomunikasi saat ini, bisa dibilang dunia 3G dan selanjutnya merupakan hasil merger antara teknologi internet (IP based) dan teknologi telecom (SS7 based). Dan cukup banyak teknologi IP Based merupakan implementasi open protocol yang sifatnya open source.

Quote diatas merupakan salah satu bentuk request operator teknologi telekomunikasi untuk peningkatan security infrastruktur yang mereka miliki. Jika dahulu tidak banyak security profesional yang bisa menyentuh bidang telekomunikasi dikarenakan basic pengetahuan yang mereka miliki umumnya berdasarkan IP based technology (telekomunikasi merupakan industry oriented, sehingga hanya orang-orang yang berkecimpung didalamnya memiliki kesempatan mempelajari teknologi tersebut secara mendalam) maka saat ini security profesional sudah selayaknya memiliki basic pengetahuan di bidang teknologi telekomunikasi. At least, mengerti bagaimana mekanisme teknologi GSM/UMTS bekerja ;).

Perpindahan teknologi ke IP based menyebabkan mesin-mesin telekomunikasi semakin dapat dijangkau oleh teknologi security dan semakin besar kemungkinan untuk didapatkan security hole.

So, perkembangan teknologi telekomunikasi ini akan menambah luas jangkauan para security consultant / security profesional atau memperbanyak lahan jajahan para hacker?!atau keduanya?!

Have I mentioned we’ll use Linux for next generation telco?!

June 26, 2008

Indonesian Law Interception

Filed under: News, Telco — staff @ 8:35 pm

Call Tapping merupakan standar umum didunia telekomunikasi, termasuk telekomunikasi selular/GSM. Hal ini umumnya dilakukan pada sisi MSC.

Pada dunia wire-telecom alias telekomunikasi yang menggunakan kabel (non-wireless), tapping merupakan hal yang umum. Dan biasanya tapping dilakukan sebagai salah satu metode untuk debugging apabila terjadi gangguan. Banyak orang mengira bahwa komunikasi menggunakan telepon selular akan lebih aman dibandingkan komunikasi menggunakan telepon kabel, alasannya jelas sederhana…karena phreaking/hijacking menggunakan telekomunikasi selular lebih sulit dibandingkan hijack komunikasi yang menggunakan kabel. Selain peralatan sadapnya mahal, harus berhadapan dengan tehnik authentifikasi yang dilakukan mesin HLR. Walaupun saat ini skyper berhasil melakukan cracking A5 dengan bantuan FPGA, namun hal tersebut termasuk kompleks untuk diimplementasikan.

Cara paling mudah adalah melakukan tapping dari sisi operator. FYI, roll-out implementasi tapping pada jaringan selular di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 2006 akhir, yang intinya adalah mengaktifkan feature Law Interception pada perangkat telekomunikasi, terutama MSC. Dalam dunia IP network, MSC bisa diibaratkan sebagai perangkat router. MSC akan mengendalikan proses call, routing, setup, dll. Dan feature Law Interception memang digunakan pada standar GSM untuk keperluan pemerintah.

Isu terorisme bisa dianggap sebagai akar dominan diberlakukannya Law Interception oleh operator-operator seluler seluruh dunia. Imam Samudra a.k.a Abdul Aziz a.k.a Qudama yang dijadikan tersangka teroris yang melakukan pemboman di bali tahun 2002 ditangkap berkat pihak inteligent mendapatkan bantuan dari pihak asing (australia?!) untuk menyadap komunikasi selular imam mahdi. Berdasarkan keterangan yang beredar, Abdul Aziz menggunakan perangkat komunikasi khusus sehingga sulit untuk dilacak menggunakan metode Law Interception standar sehingga dibutuhkan perangkat khusus untuk mendeteksinya. Ada beragam metode yang digunakan utk tapping, mulai dari sisi yang paling dekat dengan subscriber (pengguna telepon) dengan memanfaatkan sinyal radio (wireless) ataupun dari sisi operator seperti yang telah disebutkan diatas.

Isu terorisme saat ini mungkin sudah bukan menjadi alasan utama dibeberapa negara, termasuk Indonesia. Namun feature tapping masih terus digunakan untuk berbagai macam kepentingan, mulai dari kepentingan negara dengan badan inteligence nya, maupun untuk kepentingan bisnis komersial. Salah satu contoh yang mudah untuk dilihat adalah fakta rekaman suara beberapa peserta koruptor yang menjadi berita di Indonesia saat ini. Dari beragam berita yang beredar, jelas kemungkinan sistem telekomunikasi yang di record adalah sistem telekomunikasi selular. Banyak orang yang merasa menggunakan handphone untuk berkomunikasi lebih aman, apalagi penggunaan kartu pra-bayar di Indonesia sangat sangat bebas dan mudah. Tinggal beli, registrasi asal-asalan, pakai, buang.

Selain menggunakan mekanisme tapping terhadap nomor-nomor tertentu, tapping juga bisa dilakukan terhadap cell tertentu dengan bantuan BSC (Base Station Controller). Cell disini bisa diperkirakan rumah target, atau tempat kerja target. Dengan location-based tapping semacam ini, maka walaupun target menggunakan no yang berbeda namun masih tetap dapat terlacak apabila ada aktivias komunikasi dari cell tersebut.

Paling tidak, setelah 2 tahun di roll-out akhirnya feature Law Interception digunakan dengan baik oleh pemerintah, rasanya tidak sia-sia pemerintah ‘memaksa’ seluruh operator memberlakukan feature ini, dan tentunya secara gratis :).

Namun rasanya cukup aneh pemerintah membeberkan hasil tapping tersebut kepada publik. Dengan adanya kejadian tersebut, tentu akan menyebabkan para kriminal berpikir untuk lebih hati-hati lagi karena mengetahui pemerintah dapat menyadap komunikasi seluler mereka, termasuk mungkin memesan private handphone untuk digunakan dalam berkomunikasi yang telah dilengkapi private channel. Dan tentunya akan berakibat proses pelacakan aksi kriminal di Indonesia semakin sulit.

Well, membeli private communication channel bagi para kriminal Indonesia yang mampu mengeluarkan $660.000 sebagai upah cuma-cuma tentu bukan masalah besar, bukan begitu?!

February 12, 2008

Road to IP

Filed under: Mobile, Telco, Various Technology — staff @ 1:28 am

Dunia telekomunikasi menggunakan TDM based sebagai mekanisme pembawa pesan, dan protokol yang umumnya terlibat adalah SS7 dan ATM. Seiring dengan perkembangan teknologi, tidak dapat dipungkiri bahwa internet dengan teknologi IP nya memegang peranan penting sebagai protokol paling dominan di dunia saat ini. Selain itu dengan beragamnya pihak yang memahami konsep TCP/IP membuat teknologi IP based berkembang sangat pesat, hal ini mirip dengan LINUX yang dikembangkan oleh seluruh orang di dunia. 2 kepala lebih baik daripada 1 kepala.

Perkembangan teknologi IP memaksa dunia telekomunikasi memusatkan perhatiannya untuk ikut menggunakan teknologi IP based dalam infrastruktur perangkat-perangkatnya. Salah satu alasan utamanya adalah masalah kapasitas. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini teknologi IP based sudah umum menggunakan kapasitas Gigabit, sedangkan teknologi telco masih menggunakan kapasitas E1 sebagai media pembawa paket-paket data. Perbandingannya sangat jauh, E1 yang berkapasitas 2 Mbps dengan Gigabit ethernet yang berkapasitas 1000 Mbps. Perkembangan teknologi aplikasi juga menuntut kemampuan carrier (pembawa paket) untuk mengantarkan paket-paket data aplikasi.

Proses migrasi dari SS7 based kedalam IP based terjadi melalui proses evolusi yang bertahap. Infrasturktur teknologi telco yang ada saat ini tidak mungkin bisa langsung diubah kedalam IP based. Untuk itu dikembangkan pula beberapa protocol yang merupakan jembatan bagi protocol SS7 ke IP based, salah satunya adalah SCTP yang merupakan pengembangan dari trasnport layer untuk dapat memberikan layanan yang lebih reliable.

Dalam dunia telekomunikasi dikenal istilah softswitch, yang merupakan perangkat jembatan antara teknologi SS7 dan teknologi IP based. Impelementasi softswitch sudah dilakukan oleh operator-operator telekomunikasi di dunia seperti BT (British Telecom), vodafone, china telecom, termasuk operator-operator di Indonesia Telkomsel, Indosat, XL, dsb. Perangkat yang masuk kategori softswitch memiliki kemampuan untuk berkomunikasi pada network yang menggunakan protocol SS7 maupun network yang menggunakan IP based. Dan terbukti dengan adanya teknologi softswitch ini implementasi telekomunikasi yang membutuhkan kapasitas besar dapat dilakukan, salah satu hasilnya adalah teknologi 3G dimana kita bisa melakukan komunikasi yang memanfaatkan sistem multimedia (video call).

IMS (IP Multimedia Subsystem) merupakan teknologi dimana dunia telekomunikasi sudah seluruhnya berbasis IP. Dan implementasi softswitch merupakan jembatan menuju IMS. Jika infrastruktur sudah mendukung komunikasi IP maka berbagai macam aplikasi saat ini dapat berjalan diatas perangkat-perangkat telco, seperti VoIP, CCTV, dan kemungkinan besar teknologi web 2.0 pun dapat berjalan di atas perangkat telco. Mungkin kita dapat membayangkan bahwa iklan-iklan yang diterima oleh handphone saat ini hanya berupa layanan teks, jika IMS sudah diimplementasikan maka kita dapat membayangkan teknologi internet saat ini pindah ke mobile device (handphone, gadget, dll). Aplikasi-aplikasi di handphone pun tidak lagi menggunakan java yang bersifat monoton dan statis, namun sudah dapat memanfaatkan teknologi web 2.0 seperti rails, ajax, dsb. Dan bukan hal yang aneh untuk dapat melakukan monitoring rumah kita yang menggunakan CCTV via handphone.

Untuk apa implementasi VoIP di perangkat telekomunikasi?!toh saat ini kita sudah bisa melakukan VoIP via  internet dan laptop

Mungkin itulah salah satu pertanyaan yang ada di benak masyarakat IT, namun kita harus sadar bahwa penggunaan VoIP saat ini sangat terbatas. Tidak mungkin kan membawa-bawa laptop sambil ber-VoIP ria didalam bus kota. Dan yang perlu disadari lagi adalah fasilitas internet tersebut tidak tersedia secara bebas dimanapun dan kapanpun. Walaupun saat ini jaringan wifi sudah tersebar luas, tapi paling hanya di kota-kota besar dan itupun terbatas di lingkungan-lingkungan komersial.

Bayangkan jika kita bisa menggunakan VoIP pada handphone ataupun gadget pribadi, maka semua orang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut kapanpun dan dimanapun.

Bagaimana dengan WIMAX?!Jika implementasi wifi seperti hotspot terbatas pada suatu lingkungan tertentu, maka dengan teknologi Wimax satu kota dapat memanfaatkan jaringan wireless. Kita dapat menggunakan wimax untuk ber-internet ria, ber-voip ria kapanpun dan dimanapun dalam cakupan yang sangat luas. Apalagi saat ini gadget-gadget dan handphone sudah dapat di install aplikasi VoIP (skype?!), maka kita dapat menggunakan VoIP dalam bus kota, saat di WC, saat di mall dsb.

Oke, good. Itulah sebabnya pada suatu saat nanti, teknologi telekomunikasi dan teknologi IP akan bertemu disuatu titik. Implementasi IMS pada telco dan implementasi Wimax pada dunia IP saat ini sudah menunjukan bahwa suatu saat nanti kedua teknologi tersebut akan bertemu. Salah satu permasalah mendasar yang cukup pelik di dunia telco untuk implementasi IMS pun terletak pada radio service. Dengan meningkatnya kapasitas di bagian core network, maka di bagian radio pun harus memiliki kemampuan untuk membawa data berkapasitas besar. Dengan kata lain, antara perangkat mobile pengguna dengan media transmisi telekomunikasi harus sudah siap untuk pengiriman/penerimaan data IP yang berkapasitas besar. Dan lagi-lagi, hal ini sudah diimplementasikan secara bertahap melalui teknologi 3G. Seperti yang kita tahu bahwa tidak setiap handphone dapat menerima sinyal 3G, dan tidak semua daerah terdapat network 3G. BTS yang mampu melakukan transmisi dengan kapasitas 3G berbeda dengan BTS pada transmisi GSM sebelumnya (2G). Sehingga untuk dapat melakukan komunikasi dengan kapasitas besar harus terdapat dukungan dikedua pihak, baik handphone maupun media transmisi nya harus mendukung kapasitas besar.

Penggunaan IP based pada dunia telekomunikasi dapat menjadi topik tersendiri bagi para pecinta security. Dunia telco saat ini masih sangat jarang disentuh salah satunya adalah karena protokol yang digunakan berbeda dari protokol internet. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, dunia telekomunikasi sangat terbatas pada lingkungan industri. Vulnerability yang saat ini ditemukan umumnya berjalan diatas teknologi IP. Resource untuk teknologi IP dapat dengan mudah ditemukan di Internet, dan kita dapat membuat beragam code-code program untuk berkomunikasi dengan perangkat yang menggunakan protocol TCP/IP. Library-library pendukung untuk komunikasi dengan TCP/IP banyak ditemukan pada bahasa-bahasa pemrograman seperti C, perl, python, ruby, dsb. Namun library-library pendukung untuk berkomunikasi dengan protokol SS7 sangat sangat jarang ditemukan, itu pun sangat tergantung dari kernel sistem operasi yang kita gunakan untuk dapat berkomunikasi dengan network SS7. Umumnya vulnerability research untuk dunia telco dilakukan secara legal atas nama perusahaan.

Namun bisa kita bayangkan apabila perangkat-perangkat telekomunikasi sudah menggunakan IP based, maka dengan modal Handphone pun kita dapat berkomunikasi dengan perangkat-perangkat telekomunikasi tersebut. Dan bukan tidak mungkin pula virus-virus dan worm akan semakin mudah menyentuh dunia telekomunikasi hingga ke end-user.

Yang pasti perkembangan teknologi IP di dunia telekomunikasi akan berdampak sangat besar bagi peradaban manusia, dengan adanya teknologi tersebut maka akan membuat jarak tidak ada artinya lagi. Dan setiap pihak pun sudah bersiap-siap untuk memanfaatkan peradaban baru tersebut, termasuk para hacker dan juga pihak-pihak yang ingin memanfaatkan information warfare.

February 5, 2008

Cellphone untuk deteksi teroris?!

Filed under: Mobile, Research, Telco, Various Technology — staff @ 1:00 am

Tepat seperti yang dikatakan schneier, riset ini sangat cerdas. Memanfaatkan jaringan cellular untuk mendeteksi keberadaan sinyal radioaktif dari bom. Saat ini pengguna cellphone semakin membludak, di Indonesia sendiri hampir setiap lapisan masyarakat memiliki telpon selular. Mulai dari kalangan atas hingga para penjual makanan pinggir jalan sudah menggunakan telepon selular. Saat ini kita juga bisa melihat munculnya berbagai macam pengembangan mobile phone yang semula hanya digunakan untuk komunikasi voice, diantaranya untuk teknologi internet (IP), teknologi GPS (Global Positioning System) yang digunakan untuk memetakan suatu lokasi receiver, dan bahkan penambahan chip pada mobile phone agar dapat menerima sinyal televisi dan radio.

Jika kita berbicara mengenai tracking system mungkin dapat membayangkan seperti dalam film Enemy of the states, kemanapun orang tersebut pergi dapat dilacak keberadaannya. Dalam film tersebut tracking system menggunakan beberapa perangkat, diantaranya alat pelacak dedicated yang ditempel pada target, camera system, public telephone hingga pada teknologi satelite. Tracking system tersebut dapat dilakukan hanya terbatas pada lokasi tertentu yang mendukung adanya perangkat-perangkat tersebut, bagaimana jika tracking system hendak dilakukan di-negara lain?dimana ketersediaan perangkat-perangkat pendukung tidak memadai?misalnya: iran, pakistan, indonesia (WTF?!).

Tentu saja membangun infrastruktur seperti itu akan sangat mahal dan merepotkan. Walaupun saat ini di hampir setiap negara sudah diberlakukan berbagai macam policy yang ujungnya adalah untuk kebutuhan tracking system. Internet sudah banyak dikuasai oleh pemerintah yang bercokol melalui aturan-aturan ketat pada ISP, PSTN serta operator-operator selular juga sudah dipaksa memberlakukan system tracking melalui aktivasi perangkat untuk menyadap komunikasi, komunikasi VOIP sudah disadap, dll. Namun semuanya masih dapat dilewati jika sang target tidak menggunakan teknologi tersebut. Dibutuhkan suatu mekanisme dimana tracking system memanfaatkan elemen yang tersebar diseluruh penjuru dunia untuk melacak sesuatu.

Jika kita bertanya, perangkat digital apa yang tersebar luas dimasyarakat dan terkoneksi satu sama lain?!tentu saja jawabannya adalah telepon sellular. Tracking system memanfaatkan telepon selular secara aktif sudah dilakukan, pelacakan posisi seseorang berdasarkan mobile station yang dibawanya dapat dengan mudah dilakukan. Namun tracking system yang lebih canggih dapat memanfaatkan telepon selular secara pasif, tepat seperti yang dilakukan group research dari purdue tersebut untuk mendeteksi kebaradaan teroris pembawa bom (sinyal radioaktif). Teknologi ini memanfaatkan manusia untuk melacak keberadaan sinyal radioaktif, bahkan jika si pembawa bom sedang minum teh disuatu desa dan kebetulan si penjual teh memiliki telepon selular keberadaan si pembawa bom dapat dilacak dengan tepat.

Saya rasa penemuan ini merupakan titik awal inovasi lain pada tracking system, saat ini hanya sinyal radioaktif yang dapat di-tracking. Pada pengembangan selanjutnya tentu saja dapat dimanfaatkan untuk hal yang lain dan mungkin saja dengan cara pemasangan suatu backdoor pada telepon selular (oleh vendor atas desakan pemerintah) atau aplikasi telpon selular tersebut,  misalnya: untuk setiap hasil photo suatu telepon selular secara diam-diam dikirimkan gambarnya ke pusat monitoring, pada keypad telepon selular disertai chip untuk mendeteksi sidik jari yang secara diam-diam juga dikirimkan ke pusat monitoring (iPhone guys?!), dsb.

Intinya, pemanfaatan perangkat telepon selular yang sudah menyebar luas diseluruh lapisan masyarakat sebagai infrastruktur untuk tracking system (layaknya kamera pengawas yang tersebar di berbagai penjuru) merupakan solusi yang sangat cerdas dan efisien. Dan sebagai informasi, saat ini negara-negara belum berkembang dan negara-negara berkembang sangat tinggi pertumbuhan penggunaan telepon selularnya. Termasuk negara-negara seperti pakistan, iran, vietnam dan negara-negara kawasan afrika seperti aljazair, tunisia, dsb.

Ironis ya, sementara negara-negara maju sudah memikirkan konsep tracking system seperti ini, negara-negara berkembang dan negara-negara tertinggal lainnya masih menikmati telp murah tiap malam, sms-an gaul dan yang lebih parah lagi…menggunakan pulsa telp selular untuk mengadu nasib dan keberuntungan melalui REG-spasi-XXX (indo style?)

Semakin jelas bahwa telekomunikasi dapat digunakan untuk menguasai informasi. Dan barangsiapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia.

Pwned the world?!

February 1, 2008

A tale story of Indonesian cellular tech

Filed under: Telco — staff @ 3:11 am

Saat ini masih sangat sedikit resource yang membahas mengenai teknologi telekomunikasi di Indonesia. Teknologi disini dalam arti rincian pembahasan teknologi secara detail dan mendalam, bukan hanya berita-berita seputar teknologi telekomunikasi ataupun industri telekomunikasiyang banyak dibahas pada media mass seperti detik-inet. Pembahasan mendalam mengenai telco ini bukan hanya karena sulitnya mendapatkan resource mengenai teknologi ini, namun juga karena keterbatasan orang-orang yang berkecimpng di dunia telco untuk menjaga rahasia perusahaan untuk tidak di publish pada pihak luar. Disamping itu, para engineer di dunia telco itu sendiri pun jarang ada yang peduli pada komunitas di internet untuk berbagi pengetahuan di bidang telco karena kesibukan yang luar biasa dan lagi-lagi karena keterbatasan untuk tidak menyebarluaskan dokumen yang spesifik dimiliki oleh suatu industri telekomunikasi. Saat awal-awal berkecimpung di industri telco, salah seorang rekan yang mengenalkan dunia ini mengatakan

Teknologi IT bisa kamu pelajari secara mandiri, kamu bisa dapatkan dari internet ataupun dari buku-buku. Teknologi seperti web programming, IT security, network dan operating system banyak berserakan di berbagai tempat. Namun teknologi telco sangat berbeda karena sifatnya vendor/industry oriented, sedikit sekali resource yang bisa kita dapatkan secara bebas, dan untuk mempelajarinya tidak bisa selain bekerja di perusahaan telco itu sendiri.

Walaupun begitu, tetap saja beberapa individu mencoba untuk sedikit ‘berbagi’ mengenai teknologi-teknologi telco yang sudah di implementasikan khususnya di Indonesia, salah satunya rekan ini yang saat ini menjadi salah satu engineer handal pada salah satu vendor telco terkemuka di Indonesia saat ini. Munculnya beberapa individu dari dunia telco yang melakukan sharing teknologi membuat saya tergelitik dan akan mencoba secara berkala ikut memberikan kontribusi mengenai informasi dari dunia telco dengan harapan akan lebih banyak lagi individu-individu di Indonesia yang memiliki pengetahuan mengenai implementasi teknologi telco saat ini.

(more…)

Blog By You-Know-What