Kecoak Elektronik Indonesia

September 27, 2008

Mobile Internet Devices

Filed under: Mobile — Cyberheb @ 6:46 pm

Stone V.S iPhone

Gambar diatas merupakan salah satu tipikal joke sindirian untuk iPhone saat ini. iPhone sendiri sudah keluar sejak setahun yang lalu ketika apple merilis 1st Gen iPhone dengan kemampuan radio non-3G, yang tentu saja juga banyak dihujat dan dicemooh oleh banyak pihak karena ‘ketidakmampuan’-nya melayani user selayaknya handset-handset lain seperti nokia dan blackberry.

Comparison is done against existing mobile device.

Jika dibandingkan dengan existing mobile device bahkan yang model lama sekalipun, memang iPhone masih banyak keterbatasan. Namun jika ditelaah lebih lanjut lagi, iPhone tidak didesign untuk melayani end-user dengan kapasitas/kemampuan yang sama seperti mobile phone pada umumnya. Kita bisa mengatakan bahwa iPhone adalah komputer mini dengan memory 512mb, prosesor 620 MHz, harddisk 8G/16G, sistem operasi turunan dari BSD-like (Darwin) yang bisa digunakan untuk telepon. Mungkin bisa dikatakan seperti laptop yang sebesar genggaman tangan dan dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Salah satunya telepon. Hanya saja banyak yang mengira bahwa iPhone *hanya* untuk telepon.

Jika kita melihat presentasi steve jobs pada WWDC ‘08 beberapa bulan lalu, khususnya ketika jobs merilis SDK iPhone untuk pertama kalinya dan memperlihatkan apa yang dapat kita lakukan dengan SDK tersebut maka untuk beberapa pihak tentu rilis SDK ini akan menjadi sangat menarik. Diantaranya adalah bagi para developer, terutama mungkin para programmer yang hobi membuat aplikasi diwaktu luangnya. Suatu keuntungan tersendiri bagi para developer bebas yang mampu membuat aplikasi iPhone, cukup dengan download SDK tersebut maka kita akan mendapatkan beragam aplikasi untuk development beserta tools-tools debuging plus…iPhone simulator. Apple juga menawarkan suatu program bagi para developer untuk testing aplikasinya dengan harga tertentu.

Yang paling menarik adalah kita dapat meletakan aplikasi tersebut pada apple store dan website apple yang notabene dikunjungi ribuat pengunjung dalam satu harinya. Jika dalam sebulan ada 100 orang saja yang tertarik pada aplikasi milik kita dan mendownload serta membeli aplikasi tersebut, tentu ini bisa menjadi salah satu sumber uang saku yang cukup lumayan. Terlebih lagi jika kita bisa membuat aplikasi yang bermanfaat bagi banyak pihak dan dibutuhkan. Sampai saat ini saya pribadi masih sering berpikir apakah kesempatan ini juga dilirik oleh para developer-developer Indonesia, atau mungkin software house Indonesia untuk ikut develop aplikasi iPhone?! terlebih lagi dengan adanya isu bahwa salah satu operator besar di Indonesia akan mem-bundle iPhone sehingga semakin banyak masyarakat indonesia yang menggunakan iPhone.

Oke, fakta diatas jika dilihat dari segi bisnis untuk para developer. Dengan dirilisnya SDK maka sebenarnya apple juga telah melakukan penanaman bibit (baca: investasi) dalam bentuk yang sangat kreatif. Banyak yang menghujat iPhone karena ketidakmampuannya menyaingi kemampuan telepon genggam saat ini, namun bagi para geek dan pecinta teknologi tentu akan sangat kagum dengan feature lain yang tersedia pada iPhone dan belum ditemukan pada produk telepon selular lain, diantaranya multitouch dan accelerometer. Multitouch berupa layar sentuh sebagai interface antara user dengan iPhone bisa dibilang teknologi baru (well…walaupun beberapa individu mengklaim bahwa teknologi ini telah ada sejak tahun 80-90 an), dan implementasi accelerometer yang memanfaatkan perhitungan fisika terhadap gaya gravitasi bumi untuk mengubah tampilan pada iPhone termasuk feature yang luar biasa.

Saya sendiri sempat mendengar bahwa ada 2 orang Indonesia yang tergabung dalam komunitas olimpiade fisika tingkat SMU dari Indonesia bekerja sama dengan para mahasiswa MIT melakukan penyempurnaan teknologi accelerometer pada telepon selular (diantaranya untuk studi kasus iPhone dan mungkin android google), mereka mengajukan prototipe aplikasi ini pada event perlombaan programming tingkat internasional di jepang, dan mungkin telah digunakan oleh iPhone/android saat ini. It’s kewl anyway guys ;).

Perilisan SDK iPhone akan membuka kesempatan bagi setiap orang diseluruh dunia secara tidak langsung menyempurnakan produk-produk iPhone, dan juga membuat aplikasi-aplikasi untuk iPhone. iPhone bisa diibaratkan sebagai template, dan telah siap untuk teknologi-teknologi yang telah ada saat ini namun apple membiarkan pihak lain (third party) mengembangkan produk tersebut untuk iPhone. Diantaranya adalah produk video recorder, GPS, dan mungkin video call untuk 3G. Setelah hampir 20 tahun, perkembangan opensource sungguh luar biasa. Prinsip ‘dikembangkan oleh masyarakat seluruh dunia’ disadari oleh banyak vendor sebagai sesuatu yang sulit untuk ditandingi. Hal ini bisa kita lihat dengan perkembangan Linux sebagai sistem operasi opensource yang pada kenyataannya banyak memunculkan kreativitas-kreativitas baru di bidang teknologi, dan kreativitas-kreativitas ini dihasilkan oleh berbagai macam orang diseluruh dunia. Walaupun vendor dengan close-source nya juga ikut mempengaruhi perkembangan teknologi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa opensource berperan sangat besar dalam perkembangan teknologi saat ini. Again, they’re genious :).

Terlepas dari keunggulan produk apple ini, iPhone merupakan salah satu hal yang dapat membuat masyarakat dekat dengan internet. Perkembangan internet sangat luar biasa, namun tetap saja kita membutuhkan posisi duduk didepan komputer untuk mengaksesnya. Saat ini akses internet semakin mudah dengan bundle telekomunikasi. Dengan kapasitas teknologi seperti 3G, akses internet dapat lebih mudah melalui telepon selular. Namun tetap saja, fungsi utamanya adalah untuk keperlua telekomunikasi. Hal inilah yang membuat produk iPhone berbeda, dengan memanfaatkan ‘kendaraan’ telekomunikasi iPhone membuat masyarakat lebih dekat pada internet, terlebih lagi dengan kapasitas iPhone yang membuat masyarakat lebih nyaman seperti fungsi iPod, web browser, dan yang paling menarik adalah aplikasi-aplikasi simple namun praktis yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan internet sehari-hari. Contohnya: email yang dapat diakses dengan beberapa kali sentuh dan interaktif, facebook yang menyuguhkan akses secara simple tapi menarik ke social network, radio streaming dari berbagai siaran di seluruh dunia, aplikasi perbankan dari bank diseluruh dunia, twitterific untuk akses aplikasi twitter yang lagi-lagi secara simple namun intuitive, dsb. iPhone berhasil membuat masyarakat lebih dekat dengan internet dan menjadi salah satu Mobil Internet Devices yang luar biasa.

“Mobile broadband networks have been out for about three years now, but what has been lacking is devices that take advantage of these networks” - Telecom Magazine

Bagi yang berkecimpung dibidang telekomunikasi, pendapat diatas sangat benar. Teknologi telekomunikasi sudah sangat tinggi, namun hal ini akan menjadi sia-sia jika tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Untuk itu kehadiran Mobil Internet Devices yang inovatif sangat dibutuhkan.

Melalui link yang sama diatas, kita dapat melihat bahwa T-Mobile telah melakukan testing perdananya untuk Android yang merupakan produk Mobil Internet Devices keluaran Google. Berbeda dengan apple, google tetap mengusung prinsip opensource dengan menggunakan sistem operasi berbasis opensource untuk produk Android.

Untuk bidang security, lagi-lagi perkembangan teknologi memaksa para security maniac untuk ikut berpartisipasi di kawasan Mobile Internet Devices. Jika sebelumnya para researcher melakukan fuzzing hanya untuk aplikasi server ataupun apliasi desktop, maka sudah selayaknya untuk juga melihat teknologi Mobile Internet Devices. Seperti yang telah kita ketahui bahwa internet adalah tempat yang sangat berbahaya, jika privasi kita di komputer desktop rentan terhadap berbagai macam serangan maka para pengguna Mobile Internet Devices pun akan terkena resiko yang sama, bahkan mungkin lebih besar karena umumnya kita menyimpang lebih banyak informasi/data personal pada telepon genggam pribadi. Bisa dibayangkan jika saat browsing dengan mobile safari ternyata tiba-tiba foto-foto kita dengan sang pacar lenyap dan muncul di Internet, atau ketika download suatu aplikasi iPhone ternyata didalamnya juga terdapat worm/trojan yang akan mengirimkan data-data rahasia (hmmm…rasanya belum ada kan program antivirus/anti-trojan yang dapat mendeteksi aplikasi iPhone? :) ), atau lebih parah…iPhone kita telah terpasang backdoor terlebih lagi dengan maraknya jailbreak dan toolchain dimana seseorang dapat mengembangkan backdoor dan memanfaatkan shell pada iPhone milik kita. Dan sebagainya.

Intinya, dengan keberadaan Mobil Internet Devices yang diawali oleh iPhone tentu akan membuat kultur dan gaya hidup masyarakat dunia berubah sedikit demi sedikit, dan dengan adanya internet maka batas wilayah sudah tidak berarti lagi. Demikian juga dengan batas privasi akan semakin beresiko tinggi untuk hilang begitu saja.

Satu hal yang menarik mengenai fakta pada iPhone, banyak sekali geek yang tertarik untuk mencobanya, dan jika suatu produk sudah diminati oleh para geek dan hacker…tinggal tunggu waktu hingga produk komersial tersebut menjadi mainan di Underground. Hal ini telah terjadi pada iPhone dlm waktu hanya 1 tahun sejak kemunculan perdananya. Dan kita dapat menemukan para profesional di berbagai bidang (IT, programmer, telco, etc) berkumpul dan bermain di underground untuk membuka berbagai macam tabir rahasia teknologi iPhone.

Semoga saja operator di Indonesia menyadari potensi Mobile Internet Devices ini sehingga bersedia membantu harga jualnya sehingga tidak terlalu mahal dan dapat membuat masyarakat Indonesia lebih dekat lagi pada internet. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan kita tidak perlu membawa atm visa elektron untuk belanja di supermarket, namun cukup mengeluarkan gadget dan transfer via paypal untuk pembayarannya.

Ahhh, future….

February 12, 2008

Road to IP

Filed under: Mobile, Telco, Various Technology — staff @ 1:28 am

Dunia telekomunikasi menggunakan TDM based sebagai mekanisme pembawa pesan, dan protokol yang umumnya terlibat adalah SS7 dan ATM. Seiring dengan perkembangan teknologi, tidak dapat dipungkiri bahwa internet dengan teknologi IP nya memegang peranan penting sebagai protokol paling dominan di dunia saat ini. Selain itu dengan beragamnya pihak yang memahami konsep TCP/IP membuat teknologi IP based berkembang sangat pesat, hal ini mirip dengan LINUX yang dikembangkan oleh seluruh orang di dunia. 2 kepala lebih baik daripada 1 kepala.

Perkembangan teknologi IP memaksa dunia telekomunikasi memusatkan perhatiannya untuk ikut menggunakan teknologi IP based dalam infrastruktur perangkat-perangkatnya. Salah satu alasan utamanya adalah masalah kapasitas. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini teknologi IP based sudah umum menggunakan kapasitas Gigabit, sedangkan teknologi telco masih menggunakan kapasitas E1 sebagai media pembawa paket-paket data. Perbandingannya sangat jauh, E1 yang berkapasitas 2 Mbps dengan Gigabit ethernet yang berkapasitas 1000 Mbps. Perkembangan teknologi aplikasi juga menuntut kemampuan carrier (pembawa paket) untuk mengantarkan paket-paket data aplikasi.

Proses migrasi dari SS7 based kedalam IP based terjadi melalui proses evolusi yang bertahap. Infrasturktur teknologi telco yang ada saat ini tidak mungkin bisa langsung diubah kedalam IP based. Untuk itu dikembangkan pula beberapa protocol yang merupakan jembatan bagi protocol SS7 ke IP based, salah satunya adalah SCTP yang merupakan pengembangan dari trasnport layer untuk dapat memberikan layanan yang lebih reliable.

Dalam dunia telekomunikasi dikenal istilah softswitch, yang merupakan perangkat jembatan antara teknologi SS7 dan teknologi IP based. Impelementasi softswitch sudah dilakukan oleh operator-operator telekomunikasi di dunia seperti BT (British Telecom), vodafone, china telecom, termasuk operator-operator di Indonesia Telkomsel, Indosat, XL, dsb. Perangkat yang masuk kategori softswitch memiliki kemampuan untuk berkomunikasi pada network yang menggunakan protocol SS7 maupun network yang menggunakan IP based. Dan terbukti dengan adanya teknologi softswitch ini implementasi telekomunikasi yang membutuhkan kapasitas besar dapat dilakukan, salah satu hasilnya adalah teknologi 3G dimana kita bisa melakukan komunikasi yang memanfaatkan sistem multimedia (video call).

IMS (IP Multimedia Subsystem) merupakan teknologi dimana dunia telekomunikasi sudah seluruhnya berbasis IP. Dan implementasi softswitch merupakan jembatan menuju IMS. Jika infrastruktur sudah mendukung komunikasi IP maka berbagai macam aplikasi saat ini dapat berjalan diatas perangkat-perangkat telco, seperti VoIP, CCTV, dan kemungkinan besar teknologi web 2.0 pun dapat berjalan di atas perangkat telco. Mungkin kita dapat membayangkan bahwa iklan-iklan yang diterima oleh handphone saat ini hanya berupa layanan teks, jika IMS sudah diimplementasikan maka kita dapat membayangkan teknologi internet saat ini pindah ke mobile device (handphone, gadget, dll). Aplikasi-aplikasi di handphone pun tidak lagi menggunakan java yang bersifat monoton dan statis, namun sudah dapat memanfaatkan teknologi web 2.0 seperti rails, ajax, dsb. Dan bukan hal yang aneh untuk dapat melakukan monitoring rumah kita yang menggunakan CCTV via handphone.

Untuk apa implementasi VoIP di perangkat telekomunikasi?!toh saat ini kita sudah bisa melakukan VoIP via  internet dan laptop

Mungkin itulah salah satu pertanyaan yang ada di benak masyarakat IT, namun kita harus sadar bahwa penggunaan VoIP saat ini sangat terbatas. Tidak mungkin kan membawa-bawa laptop sambil ber-VoIP ria didalam bus kota. Dan yang perlu disadari lagi adalah fasilitas internet tersebut tidak tersedia secara bebas dimanapun dan kapanpun. Walaupun saat ini jaringan wifi sudah tersebar luas, tapi paling hanya di kota-kota besar dan itupun terbatas di lingkungan-lingkungan komersial.

Bayangkan jika kita bisa menggunakan VoIP pada handphone ataupun gadget pribadi, maka semua orang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut kapanpun dan dimanapun.

Bagaimana dengan WIMAX?!Jika implementasi wifi seperti hotspot terbatas pada suatu lingkungan tertentu, maka dengan teknologi Wimax satu kota dapat memanfaatkan jaringan wireless. Kita dapat menggunakan wimax untuk ber-internet ria, ber-voip ria kapanpun dan dimanapun dalam cakupan yang sangat luas. Apalagi saat ini gadget-gadget dan handphone sudah dapat di install aplikasi VoIP (skype?!), maka kita dapat menggunakan VoIP dalam bus kota, saat di WC, saat di mall dsb.

Oke, good. Itulah sebabnya pada suatu saat nanti, teknologi telekomunikasi dan teknologi IP akan bertemu disuatu titik. Implementasi IMS pada telco dan implementasi Wimax pada dunia IP saat ini sudah menunjukan bahwa suatu saat nanti kedua teknologi tersebut akan bertemu. Salah satu permasalah mendasar yang cukup pelik di dunia telco untuk implementasi IMS pun terletak pada radio service. Dengan meningkatnya kapasitas di bagian core network, maka di bagian radio pun harus memiliki kemampuan untuk membawa data berkapasitas besar. Dengan kata lain, antara perangkat mobile pengguna dengan media transmisi telekomunikasi harus sudah siap untuk pengiriman/penerimaan data IP yang berkapasitas besar. Dan lagi-lagi, hal ini sudah diimplementasikan secara bertahap melalui teknologi 3G. Seperti yang kita tahu bahwa tidak setiap handphone dapat menerima sinyal 3G, dan tidak semua daerah terdapat network 3G. BTS yang mampu melakukan transmisi dengan kapasitas 3G berbeda dengan BTS pada transmisi GSM sebelumnya (2G). Sehingga untuk dapat melakukan komunikasi dengan kapasitas besar harus terdapat dukungan dikedua pihak, baik handphone maupun media transmisi nya harus mendukung kapasitas besar.

Penggunaan IP based pada dunia telekomunikasi dapat menjadi topik tersendiri bagi para pecinta security. Dunia telco saat ini masih sangat jarang disentuh salah satunya adalah karena protokol yang digunakan berbeda dari protokol internet. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, dunia telekomunikasi sangat terbatas pada lingkungan industri. Vulnerability yang saat ini ditemukan umumnya berjalan diatas teknologi IP. Resource untuk teknologi IP dapat dengan mudah ditemukan di Internet, dan kita dapat membuat beragam code-code program untuk berkomunikasi dengan perangkat yang menggunakan protocol TCP/IP. Library-library pendukung untuk komunikasi dengan TCP/IP banyak ditemukan pada bahasa-bahasa pemrograman seperti C, perl, python, ruby, dsb. Namun library-library pendukung untuk berkomunikasi dengan protokol SS7 sangat sangat jarang ditemukan, itu pun sangat tergantung dari kernel sistem operasi yang kita gunakan untuk dapat berkomunikasi dengan network SS7. Umumnya vulnerability research untuk dunia telco dilakukan secara legal atas nama perusahaan.

Namun bisa kita bayangkan apabila perangkat-perangkat telekomunikasi sudah menggunakan IP based, maka dengan modal Handphone pun kita dapat berkomunikasi dengan perangkat-perangkat telekomunikasi tersebut. Dan bukan tidak mungkin pula virus-virus dan worm akan semakin mudah menyentuh dunia telekomunikasi hingga ke end-user.

Yang pasti perkembangan teknologi IP di dunia telekomunikasi akan berdampak sangat besar bagi peradaban manusia, dengan adanya teknologi tersebut maka akan membuat jarak tidak ada artinya lagi. Dan setiap pihak pun sudah bersiap-siap untuk memanfaatkan peradaban baru tersebut, termasuk para hacker dan juga pihak-pihak yang ingin memanfaatkan information warfare.

February 5, 2008

Cellphone untuk deteksi teroris?!

Filed under: Mobile, Research, Telco, Various Technology — staff @ 1:00 am

Tepat seperti yang dikatakan schneier, riset ini sangat cerdas. Memanfaatkan jaringan cellular untuk mendeteksi keberadaan sinyal radioaktif dari bom. Saat ini pengguna cellphone semakin membludak, di Indonesia sendiri hampir setiap lapisan masyarakat memiliki telpon selular. Mulai dari kalangan atas hingga para penjual makanan pinggir jalan sudah menggunakan telepon selular. Saat ini kita juga bisa melihat munculnya berbagai macam pengembangan mobile phone yang semula hanya digunakan untuk komunikasi voice, diantaranya untuk teknologi internet (IP), teknologi GPS (Global Positioning System) yang digunakan untuk memetakan suatu lokasi receiver, dan bahkan penambahan chip pada mobile phone agar dapat menerima sinyal televisi dan radio.

Jika kita berbicara mengenai tracking system mungkin dapat membayangkan seperti dalam film Enemy of the states, kemanapun orang tersebut pergi dapat dilacak keberadaannya. Dalam film tersebut tracking system menggunakan beberapa perangkat, diantaranya alat pelacak dedicated yang ditempel pada target, camera system, public telephone hingga pada teknologi satelite. Tracking system tersebut dapat dilakukan hanya terbatas pada lokasi tertentu yang mendukung adanya perangkat-perangkat tersebut, bagaimana jika tracking system hendak dilakukan di-negara lain?dimana ketersediaan perangkat-perangkat pendukung tidak memadai?misalnya: iran, pakistan, indonesia (WTF?!).

Tentu saja membangun infrastruktur seperti itu akan sangat mahal dan merepotkan. Walaupun saat ini di hampir setiap negara sudah diberlakukan berbagai macam policy yang ujungnya adalah untuk kebutuhan tracking system. Internet sudah banyak dikuasai oleh pemerintah yang bercokol melalui aturan-aturan ketat pada ISP, PSTN serta operator-operator selular juga sudah dipaksa memberlakukan system tracking melalui aktivasi perangkat untuk menyadap komunikasi, komunikasi VOIP sudah disadap, dll. Namun semuanya masih dapat dilewati jika sang target tidak menggunakan teknologi tersebut. Dibutuhkan suatu mekanisme dimana tracking system memanfaatkan elemen yang tersebar diseluruh penjuru dunia untuk melacak sesuatu.

Jika kita bertanya, perangkat digital apa yang tersebar luas dimasyarakat dan terkoneksi satu sama lain?!tentu saja jawabannya adalah telepon sellular. Tracking system memanfaatkan telepon selular secara aktif sudah dilakukan, pelacakan posisi seseorang berdasarkan mobile station yang dibawanya dapat dengan mudah dilakukan. Namun tracking system yang lebih canggih dapat memanfaatkan telepon selular secara pasif, tepat seperti yang dilakukan group research dari purdue tersebut untuk mendeteksi kebaradaan teroris pembawa bom (sinyal radioaktif). Teknologi ini memanfaatkan manusia untuk melacak keberadaan sinyal radioaktif, bahkan jika si pembawa bom sedang minum teh disuatu desa dan kebetulan si penjual teh memiliki telepon selular keberadaan si pembawa bom dapat dilacak dengan tepat.

Saya rasa penemuan ini merupakan titik awal inovasi lain pada tracking system, saat ini hanya sinyal radioaktif yang dapat di-tracking. Pada pengembangan selanjutnya tentu saja dapat dimanfaatkan untuk hal yang lain dan mungkin saja dengan cara pemasangan suatu backdoor pada telepon selular (oleh vendor atas desakan pemerintah) atau aplikasi telpon selular tersebut,  misalnya: untuk setiap hasil photo suatu telepon selular secara diam-diam dikirimkan gambarnya ke pusat monitoring, pada keypad telepon selular disertai chip untuk mendeteksi sidik jari yang secara diam-diam juga dikirimkan ke pusat monitoring (iPhone guys?!), dsb.

Intinya, pemanfaatan perangkat telepon selular yang sudah menyebar luas diseluruh lapisan masyarakat sebagai infrastruktur untuk tracking system (layaknya kamera pengawas yang tersebar di berbagai penjuru) merupakan solusi yang sangat cerdas dan efisien. Dan sebagai informasi, saat ini negara-negara belum berkembang dan negara-negara berkembang sangat tinggi pertumbuhan penggunaan telepon selularnya. Termasuk negara-negara seperti pakistan, iran, vietnam dan negara-negara kawasan afrika seperti aljazair, tunisia, dsb.

Ironis ya, sementara negara-negara maju sudah memikirkan konsep tracking system seperti ini, negara-negara berkembang dan negara-negara tertinggal lainnya masih menikmati telp murah tiap malam, sms-an gaul dan yang lebih parah lagi…menggunakan pulsa telp selular untuk mengadu nasib dan keberuntungan melalui REG-spasi-XXX (indo style?)

Semakin jelas bahwa telekomunikasi dapat digunakan untuk menguasai informasi. Dan barangsiapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia.

Pwned the world?!

Blog By You-Know-What